[Artikel] · diperbarui 3 September 2026
iDRG menaikkan standar koding: dari 4 level jadi 5 level kompleksitas
RS yang sibuk membenahi SATUSEHAT dan NIK bisa lupa satu fondasi lama: koding ICD-10/ICD-9-CM. iDRG akan menguji koding lebih keras dari INA-CBG hari ini.
RS hari ini sibuk dengan checklist yang benar: SATUSEHAT terhubung, NIK lengkap, sertifikat TTE diurus. Tapi ada satu lapisan di bawah semua itu yang jarang jadi bahan rapat, padahal langsung menentukan besar-kecilnya klaim: koding diagnosis dan tindakan. Klaim JKN hari ini dihitung lewat grouper INA-CBG dari kode ICD-10 (diagnosis) dan ICD-9-CM (tindakan) — dan penerusnya, iDRG, akan menuntut ketepatan yang lebih tinggi, bukan lebih rendah.
Kenapa standarnya naik
INA-CBG mengenal 4 kode severity level: “0” untuk rawat jalan, lalu “I” (Ringan), “II” (Sedang), “III” (Berat) untuk rawat inap — ditentukan oleh ada-tidaknya komplikasi dan komorbiditas (CC/MCC) pada diagnosis sekunder. iDRG mengganti skema ini dengan Complexity Level yang lebih granular: kode 0 (No CC) sampai 4 (Catastrophic CC), plus kode gabungan 9 untuk kasus tanpa CL tersendiri — total lima tingkat numerik. Diagnosis sekunder yang tidak dicatat, atau dicatat tapi tidak sempat dikodekan, berarti tingkat keparahan yang tercatat lebih rendah dari kondisi klinis sesungguhnya — dan tarif yang lebih rendah dari yang seharusnya, atau klaim yang dipertanyakan verifikator.
Titik rawan yang sering luput
- Diagnosis sekunder tidak lengkap. Dokter menulis diagnosis utama, tapi komorbiditas (mis. diabetes, gagal ginjal kronik) yang memengaruhi severity tidak selalu ikut ditulis atau dikodekan — padahal itu bahan CC/MCC.
- Kode ICD-9-CM tindakan tidak sinkron dengan catatan operasi. Tindakan yang tercatat di laporan operasi tapi tidak sesuai dengan kode yang diinput ke sistem klaim menciptakan mismatch yang dipertanyakan verifikator BPJS.
- Ketergantungan pada koder tunggal. RS kecil-menengah sering hanya punya satu-dua koder; satu orang cuti atau resign, disiplin koding langsung goyah.
- Tidak ada audit klaim internal sebelum kirim. Kesalahan koding baru ketahuan setelah klaim ditolak atau di-dispute BPJS — bukan sebelum dikirim, saat masih bisa diperbaiki murah.
- RME dan sistem koding berjalan terpisah. Koder mengetik ulang dari kertas atau PDF hasil cetak, alih-alih membaca langsung dari RME terstruktur — lambat dan rawan salah salin.
Yang bisa disiapkan sekarang
Linimasanya, sejauh yang bisa kami rujuk: uji coba awal berjalan sejak Maret 2025 di lima kota — Medan, Semarang, Balikpapan, Denpasar, dan Makassar — lalu uji coba dibuka secara nasional pada Oktober 2025 lewat Surat Edaran Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/936/2025 tentang uji coba nasional penerapan iDRG di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Yang belum berubah sampai sekarang: belum ada tanggal go-live nasional resmi yang menggantikan INA-CBG sepenuhnya, dan dasar tarif klaim JKN masih Permenkes No. 3 Tahun 2023. Angka cost weight dan base rate iDRG yang beredar pun masih bersifat rancangan/simulasi dan masih bisa berubah — jadi berhati-hatilah terhadap simulasi pendapatan yang disajikan seolah angka final.
Karena posisinya masih begitu, langkah paling aman adalah membenahi hal yang tetap relevan di kedua skema: kualitas dan kelengkapan dokumentasi klinis (terutama CC/MCC), disiplin koding ICD-10/ICD-9-CM, dan rutinitas audit klaim internal. Investasi ini tidak sia-sia apa pun jadwal akhirnya.
Posisi jujur kami
Adievia tidak menggantikan kompetensi koder — itu keahlian klinis-administratif yang tetap milik RS. Yang kami sediakan adalah alur E-Klaim INA-CBG yang menarik kode ICD-10/ICD-9-CM langsung dari dokumentasi RME (bukan entri ulang terpisah dari kertas), grouper INA-CBG, dan antrean outbox tahan-gangguan agar klaim tidak hilang saat jaringan terputus. Fondasi ini — koding yang lahir dari RME, bukan dari kertas — adalah yang sama yang dibutuhkan untuk menghadapi format grouper iDRG kelak. Detail transisinya ada di panduan iDRG kami.